gambar Promosi

ROKOK MARBOL BIKIN HEBOH, WHATSAPP SEKRETARIS KWI DIDUGA DIBLOKIR! KETUA KWI: MACANNYA MENGAUM, KOK PAS DITANYA MALAH HILANG?

Boy Extrime
313
×

ROKOK MARBOL BIKIN HEBOH, WHATSAPP SEKRETARIS KWI DIDUGA DIBLOKIR! KETUA KWI: MACANNYA MENGAUM, KOK PAS DITANYA MALAH HILANG?

Sebarkan artikel ini

PAMEKASAN — ketikdata.COM — Polemik rokok Durno Marbol makin berwarna. Belum tuntas publik menunggu kejelasan soal legalitas produk, kini muncul cerita baru: Sekretaris Komunitas Wartawan Indonesia (KWI) Pamekasan mengaku kesulitan menghubungi Humas Bea Cukai Madura melalui WhatsApp dan menduga nomornya telah diblokir.

Wah, ada apa ini? Apakah sinyal sedang malu-malu, WhatsApp sedang merajuk, atau memang belum ada waktu untuk membalas? Semua kemungkinan masih terbuka. Sebab, dugaan pemblokiran tersebut belum dikonfirmasi langsung oleh pihak Bea Cukai.

Ketua KWI Pamekasan, Abdus Shomad, S.H., menyayangkan apabila komunikasi untuk meminta klarifikasi justru tersendat.

“Jangan sampai jadi macan ompong! Kalau mengawasi harus berani, kalau ditanya juga jangan mendadak menghilang,” demikian inti sindiran Ketua KWI.

Situasinya cukup menggelitik. KWI ingin bertanya soal rokok Durno Marbol, tetapi komunikasi malah menjadi bahan pertanyaan baru.

Ibarat datang ke warung untuk membeli kopi, eh, malah sibuk mencari penjualnya. Kopinya belum diminum, pertanyaannya sudah bikin kepala pening!

Baca Juga : Surat KWI Mendarat di Meja Bupati Pamekasan, Transparansi Pelayanan PDAM Kini Jadi Ujian

Tentu, KWI tidak ingin asal menuduh. Bisa saja ada kendala teknis, kesibukan, atau alasan lain. Namun, jika memang ada pertanyaan yang membutuhkan penjelasan, bukankah komunikasi yang baik justru menjadi bagian penting dari pelayanan informasi publik?

Jangan sampai wartawan sibuk mengejar jawaban, sementara jawaban sibuk bermain petak umpet.

Ketua KWI menyindir agar pengawasan jangan hanya terdengar garang di atas kertas, tetapi juga harus terlihat melalui tindakan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab, macan yang mengaum memang terdengar gagah. Namun, kalau setiap ditanya malah tak terdengar suaranya, publik bisa bertanya-tanya: macannya sedang bertugas atau sedang tidur siang?

Tentu, sindiran itu merupakan kritik terhadap pentingnya transparansi, bukan kesimpulan bahwa Bea Cukai Madura gagal menjalankan tugasnya.

Baca Juga : APMP Jatim Kepung Grahadi! Kredit Rp596 Miliar Bank Jatim Disorot, Pansus Angket dan Dugaan Carut-Marut Hibah Era Khofifah Dituntut Diusut Tuntas

KWI meminta penjelasan mengenai status permintaan klarifikasi, apakah rokok Durno Marbol sudah diperiksa, serta data resmi penindakan rokok ilegal di Pamekasan selama Januari–September 2026.

Soal legalitas rokok Durno Marbol, KWI menegaskan bahwa kesimpulan harus berdasarkan pemeriksaan dokumen, pita cukai, dan keterangan resmi instansi berwenang.

Jangan sampai publik sudah berdebat sampai tiga ronde, sementara fakta sebenarnya belum naik ke panggung.

Informasi mengenai dugaan pengancaman terhadap seorang perempuan yang disebut berkaitan dengan polemik ini juga masih memerlukan konfirmasi mengenai status laporan dan penanganannya dari kepolisian. Persoalan tersebut harus dipisahkan dari masalah cukai agar tidak tercampur menjadi satu paket rumor.

KWI menunggu jawaban, bukan sulap

KWI membuka ruang klarifikasi bagi Bea Cukai Madura. Redaksi GarudaPers.com juga menyediakan hak jawab dan koreksi bagi seluruh pihak terkait.

Baca Juga : Perloki Menggugat! Ribuan Pedagang Rokok Lokal Tagih Janji Gubernur Jatim

Pertanyaannya sederhana: apakah permintaan klarifikasi sudah diterima? Apakah pemeriksaan terhadap rokok Durno Marbol telah dilakukan? Jika sudah, bagaimana hasilnya? Jika belum, bagaimana statusnya?

Tidak perlu mengeluarkan jurus sulap. Cukup berikan penjelasan yang jelas, berdasarkan data, dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab, publik tidak sedang mengikuti lomba menghilangkan pesan WhatsApp. Publik sedang menunggu kejelasan.

Jangan sampai rokoknya masih jadi tanda tanya, WhatsApp-nya ikut misterius, dan masyarakat akhirnya cuma mendapat hiburan gratis dari polemik yang tak kunjung terang.

Ingat, macan boleh mengaum, wartawan boleh bertanya, tetapi jawaban tetap perlu diberikan. Kalau semua memilih diam, yang ramai nanti bukan klarifikasi, melainkan tanda tanya!

Tinggalkan Balasan